Al- Azhar; Jami' wa Jamiatan

 “Saya seorang mahasiswa/i baru universitas al-Azhar Kairo Mesir, dan sekarang saya butuh informasi terkait dunia al-Azhar secara komperhensif dan jelas.” Berangkat dari soal itu, penulis akan memaparkan ‘secuil’ informasi yang barangkali menjadi jawaban soal tersebut sekaligus dapat membantu adik-adik dalam mengarungi samudera al-Azhar yang tak bertepi ini. 

 Awal mula dirintisnya Jami’ (Masjid) al-Azhar oleh Jauhar al-Siqili di masa dinasti Fatimiyah tahun 973 Masehi/ 361 Hijriah. Sekarang kita berada di tahun 2020 Masehi/ 1442 Hijriah, itu artinya al-Azhar sekarang sudah sangat sepuh yakni 1081 tahun. Kemudian di tahun 1961 Masehi, muncul sebuah keputusan berupa undang-undang perihal pengembangan alAzhar di antaranya perihal pembentukan sebuah Universitas. 

 Berpagi-pagi perlu dicatat dan digaris-bawahi, al-Azhar bukanlah sebuah universitas atau kampus (Jami’atan) saja, yang mengajarkan ilmu-ilmu agama melalui dunia kampus dan kuliah, namun ia juga mencakup komunitas pengajian atau masjid besar yang di dalamnya digelar berbagai macam jenis pengajian keilmuan Islam (Jami’) sebagaimana diulas di paragraf sebelumnya. Singkatnya, al-Azhar merupakan sebuah bangunan tua yang memiliki dua aspek sekaligus, yaitu Kampus dan Surau. 

 Pada mulanya, kegiatan belajar-mengajar di al-Azhar berlangsung di serambi masjid al-Azhar, dan di tahun 1936 bangunan universitas sudah mulai bisa beroperasi, kegiatan belajarmengajar pun mulai dialihkan ke universitas, dan masjid pun sepi dari aktifitas belajarmengajar. 

 Dan, di masa jabatan Grand Shaikh Gadul Haq Ali Gadul Haq serambi masjid al-Azhar dioperasikan kembali proses belajar-mengajar sebagaimana dahulu kala sampai tahun 1997 dan terus mengalami pembaruan dan perbaikan. 

 Sampai di tahun 1998 gejala pembaruan dan perbaikan itu mencapai titik kulmnasi, kegiatan belajar-mengajar di serambi al-Azhar diberlakukan dan dihidupkan kembali oleh Shaikh Ali Gom’a secara resmi atas persetujuan menteri perwakafan Republik Arab Mesir, Shaikh Mahmud Hamdy Zaqzuq, mulai saat itu ruwaq-ruwaq al-Azhar kembali menunjukkan taringnya dan metodologi atau manhaj al-Azhar mulai dicanangkan dan didemonstrasikan secara massif. 

 Maka terkenal sebuah ungkapan yang dikatakan oleh Shaikh Ali Gom’a sang bapak Talaqi: “al-Azhari, ‘Asyariyu-l-‘aqidah, Mazhabiyu-l-fiqh, Sufiyu-t-tawajjuh.” Seorang tokoh azhari identik dengan tiga kompenen; pertama, berakidah ala Imam al-‘Asy’ari, kedua, bermazhab salah satu dari empat mazhab: Imam Hanafi, Malik, Syafi’i dan Hanbal, ketiga, mengamalkan Tasawuf. 

A. Jami’ah (Universitas) 

1. Ijroatu Proses Administrasi 

 Bukan Mesir na atamanya bila tidak menerapkan sistem ‘manual’ di segala bidang kehidupan sehari-hari. Termasuk di dalam proses administrasi. Ijroat Kuliah adalah sebuah titik awal agar nama adik-adik bisa terdaftar di universitas al-Azhar secara resmi. Maka agar tidak salah langkah saat Ijroat, adik-adik harus teliti dan cermat dalam memilih kuliah sesuai minat dan bakat masing-masing. 

 Langkah pertama ialah, memastikan di ‘kuliah’ mana nama kita dicalonkan. Coba ingatingat kembali saat pengisian mazhruf, saat itu kuliah apa yang kita pilih, karena besar kemungkinan nama kita dikirimkan sesuai dengan apa yang kita tulis saat mengisi mazhruf itu. 

 Jika sudah dicek dan ternyata nama kita berada di kuliah yang kita minati, selanjutnya agar menyiapkan berkas untuk kemudian disetorkan ke syu’un kuliah, antara lain seperti; Isol Tansiq, Tahlil Dam, Fc Paspor, Pas Foto dlsb. Jika tidak, silakan melakukan proses pemindahan kuliah atau Tahwil dengan meminta informasi ke ketua Senat Fakultas masing-masing. Untuk keterangan dan info lebih lanjut, silakan hubungi Senat Fakultas Kuliah masing-masing. 

 Ada dua catatan tambahan yang ingin penulis sampaikan dalam hal Ijroat, yaitu usahakan melakukan proses administrasi pendaftaran kuliah ini dilakukan secara berkelompok tidak individual dan jangan coba-coba menunda-nunda Ijroat, lebih baik dilakukan di awal-awal awal tahun ajaran dan segera mungkin. 

2. Dosen dan Dekan; Bagaimana Membangun Relasi antar-Keduanya? 

 Salah satu karakter menonjol mahasiswa/i Indonesia di Mesir adalah keluhuran budipekerti mereka dan kepasifan saat belajar. Dua karakter itu mereka dapatkan saat mengenyam pendidikan di Indonesia terutama di pondok pesantren yang menanamkan kredo berbunyi “Tidak sopan membantah/menyela/mengkritik omongan/pendapat/pemikiran Guru atau Kiai” maka seorang santri sudah sepatutnya tunduk dan taat atas apa yang dikatkan sang Guru atau Kiai.  

 Berangkat dari situ, di sini penulis mencangkan sebuah ide ‘Rekonstruksi Fasifitas’ merobohkan kepasifan dan membangun keaktifan di kampus maupun di tempat-tempat ilmiah lainnya. Karena arena atau dunia kampus berbeda dengan dunia pesantren. Kampus adalah tempat bertukar pendapat, beradu argumen dan berani mengkritik pendapat yang memang harus dikritik sesuai dengan kapasitas keilmuan yang kita miliki tanpa memandang siapa ia. Bukan ajang malu-malu, diam apalagi menjadi pendengar pasif. 

  Di samping itu, mental juga harus dibangun, maka konsep ‘Konstruksi Mentalitas’ adalah pilihan tepat. Betapa banyak mahasiswa/i yang masih menyimpan rasa malu saat ingin mengemukakan pendapat di depan teman kuliahnya yang lintas-negara itu. Sudah saatnya rasa malu itu dibuang jauh-jauh dan membangun mental percaya diri dengan benar-benar yakin dan berani. 

 Dua konsep di atas, Rekonstruksi Pasifitas dan Konstruksi Mentalitas mampu berjalan secara beriringan bila kita sudah menguasai bahasa pengantar di Mesir yang notabenenya bahasa Arab. Itulah modal utama agar kita bisa membangun relasi positif dengan dosen dan dekan fakultas, menguasai bahasa arab secara verbal khususnya. 

 Teknisi sebelumnya terjadi di dalam jam kuliah, sedang di luar jam kuliah agar kita memiliki relasi dengan dosen dan dekan fakultas kuliah dengan baik yaitu pandai memuji-muji mereka secara berlebihan atau Mujamalah. Inilah yang penulis sebut sebagai teknis ‘Gombalisasi’ menggombali dosen dan dekan itu termasuk salah satu cara agar kita bisa dekat dan akrab dengan mereka berdua. 

 Selain itu, penguasaan kita terhadap bahasa arab Mesir sehari-hari/ ‘Amiyah juga patut diperhitungkan. Sebab bagaimana mungkin kita ingin mengakrabi seseorang, sedang tidak pernah berkomunikasi dengan baik dengan orang tersebut?. 

 Mempelajari bahasa ‘Amiyah itu penting, jangan dikira tidak penting. Tak jarang para dosen kuliah mengantarkan kuliah dengan menggunakan bahasa ‘Amiyah atau setengah Fusha setengah ‘Amiyah. Maka dengan menguasai bahasa ‘Amiyah itu jelas sangat membantu kita dalam memahami apa yang disampaikan oleh dosen juga menjadi alat pembangun relasi antar kita dengan mereka. 

3. Muqoror atau Diktat Kuliah 

 Muqoror adalah buku ajaran yang ditetapkan pihak kampus agar diajarkan kepada para mahasiswa/i selama jangka waktu yang ditentukan. Ada perbedaan yang agak signifikan terkait isi diktat kuliah dari tahun ke tahun. Di tahun 2017, sebagian besar diktat kuliah bersumber dari kitab-kitab kontemporer buah karya orang-orang yang hidup di zaman modern.  

 Kemudian di tahun selanjutnya 2018 sampai sekarang isi Muqoror mulai berganti baju ke Kutubu-t-Turats, kitab-kitab klasik zaman dahulu yang sudah dikomentari, dijelaskan dan diverifikasi kebenarannya oleh para dosen pengajar. Dan sudah barang tentu tingkat kesulitannya lebih sulit berlipat-lipat dibandingkan kitab kontemporer, namun biasanya, dengan merujuk ke komentar akan terasa lebih mudah dan gampang diterima oleh otak. 

 Teknis awal agar mudah memahami diktat kuliah ialah dengan ‘mengakrabkan’ diri dengan kamus berbahasa Arab, baik berupa aplikasi maupun buku. Yang seperti itu sangat efektif dalam memperkaya pembendaharaan kosa-kata bahasa arab kita. Sengaja menggunakan kata ‘mengakrabkan’ sebab di fase ini memang kita ‘kudu’ sering-sering bolak-balik membuka aplikasi kamus atau kamus. 

 Sudah seperti itu, ikut bergabung dengan ‘kelompok’ belajar bersama-sama yang diadakan oleh Senat dan Komunitas Belajar di kalangan Masisir. Bagi mahasiswi, hindari bimbingan belajar secara individu dengan mahasiswa senior atau private lesson karena belajar memahami diktat kuliah secara privasi seperti itu tak jarang bisa berakibat pada kasus yang tidak diinginkan. 

4. Penunjang Muqoror  

 Terkadang guna memahami suatu mata kuliah tertentu dengan berpacu pada satu buku muqoror saja tidaklah cukup, perlu adanya sebuah penunjang. Nah, seperti apa penunjang muqoror itu? Jika kitab muqoror kita ditulis di zaman kontemporer (secondary referrence), maka silakan merefer atau merujuk ke kitab-kitab klasik atau turats (primary referrence). Kitab-kitab klasik turats itu bisa dicari di internet berupa file berbentuk Pdf atau di toko buku langsung (maktabah) semmisal Daru-s-salam atau Nibras. 

 Kemudian, bilamana kita menemukan kesulitan dalam memahami mata kuliah tersebut, sebab mata kuliah tersebut masih asing di telinga kita misalnya, bisa juga merujuk ke kitab-kitab berbahasa Indonesia atau Inggris. 

5. Lapangan Perkuliahan 

 99% orang Indonesia yang mengenyam pendidikan di al-Azhar terdaftar di kuliah syariat bukan di kuliah jurusan science semisal Kedokteran, Farmasi dlsb. Kuliah Syariat sendiri mempunyai empat fakultas besar, antara lain; 

a. Fakultas Ushuluddin 

Fakultas ini menaungi empat jurusan sekaligus. Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an, Hadis dan Ilmu Hadis, Akidah dan Filsafat dan Dakwah Islamiyah . 

b. Fakultas Syariah Islamiyah wal Qonun 

c. Fakultas Dirasat Islamiyah 

d. Fakultas Lugoh Arabiyah 

 

B. Jami’ (Masjid)

 1. Talaqi  

 Sebelum tahun 1998 atau dua puluh empat tahun yang lalu belum marak yang namanya pengajian-pengajian, ruwaq, sahah, madyafah dan sejenisnya seperti sekarang ini. Siapa sosok di balik gejala ‘pembangkitan’ kembali pengajian itu sudah kita sebut di prolog. Ya, beliau adalah Shaikh Muhammad Nuruddin Ali Goma’. 

Apa beda Talaqi dengan Kuliah? 

 Kuliah adalah kegiatan belajar formal yang berlangsung di kampus dalam jenjang waktu yang ditentukan dan mata kuliah yang ditentukan pula, sedang Talaqi justru sebaliknya, Talaqi ada miripnya dengan pesantren-pesantren tradisional di Indonesia yang mengajarkan ilmu secara sistematis dan teratur, maka tak heran, belajar kitab di Kuliah jarang yang dimulai dari awal sampai khatam, berbeda dengan Talaqi yang menjadikan itu sebagai prinsip dan tradisi ‘pengijazahan’ sanad mualif kitab. 

 “Kuliah tidak mendidik anda menjadi seorang ulama, sedang Talaqi secara konsisten dan istikamah mendidik anda menjadi ulama.” Begitu ujar mantan seorang dekan Pascasarjana al-Azhar, Shakh Salim Abu ‘Ashi. 

2. Lapangan Talaqi 

 Secara garis besar, lapangan Talaqi memilki dua dimensi, dimensi pertama berkutat di masjid, antara lain seperti; masjid al-Azhar, Masjid Sidna Husein, Masjid Imam Dardir, Masjid Imam Soleh Jakfari dan Masjid el-‘Aini, Masjid ‘Asyirah Muhamadiyah kesemuanya berdomisili di bilangan Darasah. 

 Masjid Imam Ibn ‘Athoillah al-Sakandari dan Masjid al-Asyraf, Shaikh Yusri di Jabal Mukattam. Masjid Fadhil, Shaikh Ali Goma’ di Sitta Oktober. 

 Madyafah adalah tempat penerimaan tamu-tamu yang datang dari jauh, luar kota misalnya, selain menyiapkan tempat bertamu juga fokus sebagai sarana pengajian. Madyafah Shaikh Ismail Sodiq al-Adawy, Madyafah Shaikh Imran al-Dah, Madyafah Shaikh Ali Goma’ kesemuanya berdomisili di Darasah. Ada juga Sahah atau surau tempat berzikir sekaligus majelis ta’lim, semisal Sahah Raudatunaem, Sahah Indonesia dan Miros al-Nubuwah, kesemuanya berdomisili di Darasah. Sahah al-Tijaniyah berdomisili di Magribilin. Dar Imam alGhazali berdomisili di al-Hayy al-Sabi (Distrik Tujuh) dan Bait al-Muhammady di Jabal Mukattam. 

 Untuk Talaqi di luar Kairo, ada satu tempat yang sangat direkomendasikan oleh penulis yaitu Alexandria, Ruwaq al-Azhar di bawah bimbingan Shaikh Mustafa Ala Naema. 

 Sebagai catatan tambahan, dilarang keras bagi adik-adik berguru ke selain masyayikh al-Azhar karena yang demikian bisa mencelakakan diri adik-adik sendiri. Berapa banyak korban yang sudah dideportasi lantaran Talaqi kepada seorang Shaikh yang non-Azhari baik secara epistemologi maupun metodologi atau manhaji. 

 Sebagaimana penulis juga mengimbau agar jangan ada di antara adik-adik semua yang pergi ke markaz Tahfiz al-Qur’an yang tidak direkomendasikan sama sekali oleh senior, seringsering mencari informasi terkait Talaqi di luar apa yang tidak disebutkan oleh penulis di atas agar tidak terjerumus pada jurang ‘penyesalan’. 

Wallahu’alam bi al-Showwab. 


Oleh: Achmad Fauzan Azhima 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Program Kerja DEP. SOSBUD (Departemen Sosial dan Budaya)

Open House KMB 2017

Pendaftaran Seleksi Beasiswa & Non Beasiswa Universitas Al Azhar dan Timur Tengah Resmi Dibuka! Berikut Informasi Lengkapnya: