Mengenal Imam Muhammad Abu Zahrah - KMB Mesir
KABINET PERUBAHAN 2020-2021
» » Mengenal Imam Muhammad Abu Zahrah

Dalam jejak pergulatan keilmuan Islam, Mesir termasuk wilayah yang tidak pernah absen dalam melahirkan ulama dan pemikir di setiap masa. Sejak abad pertama Hijriah, tercatat sudah lahir sosok Imam Laits bin Sa’ad, seorang ahli Hadis dan Fikih terkemuka di zamannya. Produktifitas ini berhasil dipertahankan sampai era kontemporer sekarang, hingga tak ayal jika Mesir mendapat predikat ‘kiblat ilmu’ dengan al-Azhar sebagai juru kuncinya. Tentu semua ini tak lepas dari peran para ulama di sana yang terus kontinu menjaga estafet perkembangan ilmu dalam dunia Islam. Salah satu di antara yang mempunyai peran besar ialah; Imam Muhammad Abu Zahrah.
Imam Abu Zahrah dikenal sebagai seorang ulama, intelektual, pakar hukum Islam dan juga penulis produktif yang unggul. Tercatat ia telah menulis tidak kurang dari 34 buku di berbagai macam bidang, isu dan permasalahan. Tokoh kelahiran Mahallah al-Kubra, Mesir, 29 Maret 1898 M ini terlahir dari keluarga yang religius dan terhormat, sehingga pendidikan agamanya sejak kecil sudah sangat diperhatikan oleh keluarga.
Abu Zahrah kecil memulai pendidikan di Kuttab (istilah orang Arab untuk menyebut surau tempat anak-anak usia 5-6 tahun menghapal Alquran) hingga berhasil menyelesaikan hapalannya pada usia 9 tahun. Kemudian ia melanjutkan jenjang pendidikannya di Madrasah Awwaliyah, dan di sanalah ia mendapat pelajaran membaca dan menulis yang lebih dalam. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan yang tidak terbatas, membuatnya tidak membeda-bedakan dalam memilih ilmu yang akan dipelajari, sehingga ketika pindah ke Madrasah Raqiyah, di samping belajar ilmu agama ia juga belajar ilmu-ilmu sipil seperti Matematika, Geografi, Sosiologi dan lainnya.
Pada tahun 1913 M, Abu Zahrah mengikuti kegiatan pengajian yang diselenggarakan di masjid Ahmadi di daerah Thanta. Sejak saat itulah kecerdasan dan bakat keilmuannya mulai terlihat menonjol dibandingkan teman-teman sebayanya. Tidak berhenti sampai di situ, ia pun melanjutkan pendidikannya ke sekolah Lembaga Peradilan setelah berhasil meraih nilai terbaik dalam seleksi masuk ke perguruan tersebut.       
Kiprahnya dalam jabatan akademisi pun terbilang sangat cemerlang. Beliau pernah menjabat sebagai pengajar di kuliah Ushuluddin al-Azhar, hingga diangkat menjadi ketua Dekan Fakultas Syariah Islamiah di tempat yang sama. Puncaknya pada tahun 1962 M beliau mendapat kehormatan untuk menjadi salah satu anggota Majma al-Buhuts al-Islamiyah (Akademi Pengkajian Islam) di al-Azhar.
Ada sebuah analogi menarik yang beliau sampaikan di akhir prakata kitabnya mengenai pahit manis perjalanan hidup yang dilalui. Beliau mengibaratkan, “tumbuhan sebelum memiliki akar yang kuat, ia akan hidup terlebih dahulu di dalam sebuah biji. Namun bentuk tumbuhan di dalam biji tersebut sejatinya sudah bisa dilihat jika menggunakan mikroskop. Begitu juga seseorang manusia yang tumbuh. Masa awal tumbuhkembangnya akan menyimpan segala potensi yang ia miliki di dalam dirinya, yang akan menjadi identitasnya kelak di masa depan”.
Melalui analoginya di atas, beliau ingin menyampaikan bahwa ternyata semenjak di Kuttab Abu Zahrah sudah merasakan dua factor penting yang terpendam dalam dirinya, ialah : pertama, kebanggaannya terhadap pemikiran dan idealisme yang dimiliki, sampai terkadang orang-orang banyak menyebutnya sebagai anak ngeyel ketika itu. Kedua, dirinya sangat tidak suka hidup tertindas di bawah kezaliman yang ada di sekitarnya. Sehingga melalui kesadaran atas karakter dasar yang dimilikinya, maka terbentuklah kepribadian Abu Zahrah kelak yang cerdas, kritis, berani mengungkapkan kebenaran dan ulet hingga mampu menghasilkan banyak karya sepanjang hidupnya.
Dengan segala teladan yang ditinggalkan, beliau pun mengakhiri pengembaraan ilmunya pada Jumat petang tanggal 12 April 1974 di rumahnya di Zaitun, Kairo ketika berusia 76 tahun. Beliau wafat dalam keadaan sedang memegang pena untuk menulis tafsir Alquran surat an-Naml ayat 19 yang berbunyi, “maka tersenyumlah nabi Sulaiman mendengar kata-kata semut itu, dan berdoa dengan berkata : Wahai Tuhanku, karuniailah aku agar tetap bersyukur atas nikmat-Mu yang engkau berikan kepadaku dan ibu bapakku. Dan supaya aku tetap mengerjakan amal shaleh yang engkau ridai, dan masukanlah aku—dengan rahmat-Mu, ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply