PERJALANAN BERLIKU MENUJU RUMAH IDAMAN - KMB Mesir
KABINET BALANCE 2019-2020
» » » PERJALANAN BERLIKU MENUJU RUMAH IDAMAN


PERJALANAN BERLIKU MENUJU RUMAH IDAMAN

BERMULA DARI
Persisnya saya kurang tau pasti. Tapi, kira-kira usaha mengajukan proposal pengadaan Rumah Daerah Banten di Mesir sudah dimulai sejak tahun 2002. Saat itu saya belum genap setahun di Mesir, dibawah kepemimpinan Asep Sofwatullah.
Usaha lobi dan pendekatan kekeluargaan kepada Para Stakeholder Pemprov Banten pun terus dilakukan. Tapi, belum ada tanda-tanda baik untuk KMB Mesir. Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan KMB terus berganti. Setelah Asep Sofwatullah, tampuk KMB berpindah ke Iwan Abdul Aziz di pertengahan tahun 2003. Berlanjut terus ke Jajang Hidayat di pertengahan tahun 2004, Saya (Edi Hudiata) di tahun 2005, Abdul Aziz di tahun 2006 dan Ahmad Badrudin di tahun 2007.
Seiring pergantian Ketua KMB, maka Ketua Panitia Pengadaan Rumah Daerah pun mengalami penyesuaian, meski tidak diganti secara keseluruhan. Mulai dari Lili Halili, Irfan Lirisfana sampai yang paling akhir Yogi Hendardi.
Tahun 2006 sampai 2008 menjadi tahun yang amat bersejarah bagi saya pribadi, kawan-kawan alumni Mesir di Banten juga kawan-kawan KMB Mesir. Di akhir tahun 2006, semua yang berkaitan dengan proposal pengajuan rumah daerah diperbarui dan dimulai dari nol lagi.
Dulu saat saya pulang ke Indonesia, saya bawa proposal PPRD dan langsung diajukan ke Pemprov Banten. Kemudian, karena belum ada kabar baik, proposal juga diajukan ke Mas’a Toyib (anggota Komisi IV) dan Agus Puji Raharjo (Ketua PANANG DPRD Banten) yang kebetulan singgah ke Mesir di sela perjalanan umrahnya ke Saudi.
Di Indonesia saya dan Hikmatullah menindaklanjuti proposal yang dibawa Mas’a dan Agus Puji. Sampai Hikmat kembali ke Mesir, berita terakhir yang kami dapat masih harus menunggu karena proposal sedang diproses. Tapi kami belum tahu sampai dimana prosesnya.
Kawan-kawan Banten di Mesir juga telah mengirim proposal ke Ady Surya Darma (Ketua DPRD Banten) melalui Bang Haji Rohim dan Sutriahol di Saudi Arabia. Dalam perjalanannya, Pak Ady kemudian menyetujui untuk membantu KMB Mesir pada suatu sidang di DPRD Banten. 

DARI GEDUNG KORPRI KE GEDUNG KORPRI
Dalam rangka melengkapi seluruh persyaratan, kami telah menemui beberapa stakeholders di provinsi Banten, antara lain: Asda I, Kabiro Kesra, Kabiro Hukum, DPKAD, dan Ketua DPRD. Dari audiensi tersebut kami mendapatkan saran dari berbagai pihak, bahwa harus ada Yayasan Alumni untuk menerima dana hibah ini. Karena dari aspek hukum, hanya yayasan yang berakta notaris lah yang berhak dan diperbolehkan untuk menerima dana hibah.
Kami berkumpul di Gedung Korpri yang terletak di Kawasan Pusat Pemerintah Provinsi Banten pada hari Ahad tanggal 30 Maret 2008 ba’da Magrib, sekaligus membahas apa yang perlu disampaikan esok hari dalam audiensi dengan Gubernur Banten.

Saat itu hadir Asep Sofwatullah, Lili Halili, Abdul Aziz, Saya, dan Pak Kurdi. Kami membahas nama Yayasan, yang kemudian disepakati bernama Yayaysan Alumni Mesir Banten (YAMSI BANTEN). Kemudian dilanjutkan dengan memosting nama-nama pengurus mulai dari pembina sampai pengurusnya.
Susunan pengurus ini, dalam perjalanannya mengalami perampingan. Karena menurut Notaris Syahrudin, saat kami menghadap pada Rabu tanggal 2 April 2008, nama-nama pembina, pengawas dan pengurus harus ada fotokopi KTP-nya. Akhirnya, setelah merampingkan pengurus, saya dan Aziz bergerilya keliling ke rumah/tempat kerja kawan-kawan yang bisa diakses. 
Rute perjalanan dimulai dari Sekolah Mang Uus di MAN 2 Serang, kemudian ke Pak Mas’a Toyib di Kantor DPW PKS, dilanjut ke Pak Syibli dan Endang Saeful Anwar di IAIN Serang, kemudian ke Tb. Najmudin di Taman sampai ke rumah Aziz di Cikande masuk dalam (saya belum yakin kalau daerah Aziz sudah masuk dalam peta  :P), karena ia tidak memiliki KTP, maka paspornya yang ketinggalan di rumah terpaksa harus diambil.

Selesai mengumpulkan berkas, yayasan pun diproses, dan selang 2 hari kami sudah dapat Cover Notes atau bukti tanda bahwa YAMSI telah sah terdaftar sebagi lembaga yang berbadan hukum. Berkas Cover Notes itu segera kami masukan ke Pemprov ditembuskan ke semua Kabiro. Hari berikutnya, Selasa tanggal 8 April 2008 kami membuat Rekening atas nama Yayasan di Bank Jabar cabang induk Serang.
Setelah itu, pada hari Rabu tanggal 9 April 2008 kami menyusul surat PPRD KMB Mesir dengan mengirimkan permohonan pencairan dana dari YAMSI ke Gubernur. Tanggal 17 April 2008 surat YAMSI tersebut didisposisi untuk segera diproses oleh Gubernur. 
Alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah dan bantuan berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, Keluarga Mahasiswa Banten di Mesir mendapat bantuan dana hibah sejumlah 2 Milyar. 
Hari Rabu tanggal 23 April 2008 ada kepastian bahwa besok bisa dilakukan penandatanganan Berita Acara Pembayaran alias pencairan dana. Kamis tanggal 24 April 2008 pengurus YAMSI hadir di Gedung Korpri untuk penandatanganan serah terima dana hibah. 
Hari Kamis tanggal 24 April 2008 jam 11 siang, Asep, Aziz dan Tb janjian ketemuan di alun-alun Serang. Kemudian mereka menjemput saya di kantor lalu menuju Gedung Korpri. Sebelum ke Gedung Korpri kami ditraktir makan siang di restoran Padang oleh Asep yang sudah jadi bos kapal hehe...

DETIK-DETIK MENEGANGKAN
Kami shalat dzuhur di Mushola Gedung Korpri, sambil menunggu para pejabat yang sedang rapat Musrenbang, kami ngobrol sambil memprediksi kira-kira apa yang terjadi nanti. Aziz membayangkan kalau sekiranya pencairan itu tidak jadi hari itu, maka alasan apa yang akan disampaikan ke temen-temen di Mesir. Sampai Aziz bergurau, “Pokoknya kalo hari ini ga jadi pencairan dana, gue ngundurin diri dari YAMSI dan Panitia di Indo hehehe” sambil tertawa cemas.
Asep ikut nyerocos dengan gayanya yang santai, “kalo lo begitu, apalagi gue... hehe”. Suasana saat itu persis seperti salah satu program acara di stasiun televisi, “Harap-harap Cemas”. Tb Najmudin hanya tersenyum, sesekali dia melihatkan iklan di koran tentang Mak Erot sambil terkekeh. Saya, masuk bersama mereka dalam harap dan cemas.
Pukul 15.30 Pak Jaka dan Pak Rabiun dari DPKAD Provinsi Banten datang membawa map berisi berkas. Dag-dig-dug perasaan kami bertanya-tanya apa yang akan dikatakan mereka.
Pak Jaka menyampaikan bahwa BAP telah ditandatangai oleh Kepala DPKAD yang saat itu sedang berada di Le Dian acara Musrenbang. Maka setelah ditandatangani oleh YAMSI BANTEN maka dana itu sudah ditransfer ke rekening YAYASAN hari itu juga.
Alhamdulillah, kalimat pertama yang kami luapkan atas kemahakuasaan Allah. Saya pun menandatangani BAP itu dengan perasaan campur baur. Bahagia dan haru. Bahagia karena akhirnya KMB akan segera memiliki Rumah Idaman, dan haru jika melihat seluruh perjalanan yang berliku. Perasaan gemetar juga sesekali muncul saat saya melihat nominal di kertas itu.
Usai penandatanganan, kami menyalami Pak Jaka dan Pak Rabiun mengucapkan terima kasih. Tak lupa, kami juga berdoa semoga Allah menyaksikan ini sebagai amal ibadah mereka.
Begitulah Perjalanan Berliku Menuju Rumah Idaman. Semoga apa yang telah kita usahakan bisa dimanfaatkan oleh KMB Mesir untuk meningkatkan eksistensi mereka sebagai Duta Masyarakat yang tengah tafaquh fiddin.

Edi Hudiata
Tulisan ini untuk mengenang perjuangan kawan-kawan pada April 2008 yang lalu. Tulisan ini dibuat setelah penandatangan serah terima dana hibah. Barakallahu liljami.




«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply