Syeikh Abdul Halim Mahmud dan kontribusinya ke al-Azhar - KMB Mesir
Kabinet Cekatan 2016-2017
» » Syeikh Abdul Halim Mahmud dan kontribusinya ke al-Azhar


Oleh : Aditya Andika,
رب ارحمهما كما ربياني صغيرا”, doa yang selalu diucapkan Syeikh  Abdul Halim ketika mengenang kedua orangtuanya. Merekalah yang sangat berjasa mendidiknya hingga menjadi ulama besar. Seorang sufi, mengenal baik disiplin-disiplin ilmu barat maupun timur, filsuf terkenal. Bapaknya bernama Syeikh Mahmud ali seorang alim, harapan belajarnya di al-Azhar berhenti ketika bapaknya Syeikh ali wafat, dan sebagai anak paling besar, dia harus menerusi perjalanan bapaknya menafkahi keluarganya dan adik-adiknya,
Abu Ahmad, desanya yang sekarang bernama Assalam  ( sebelah timur kota Bilbis, Zaqaziq )adalah tempat dimana Syeikh Abdul Halim Mahmud dilahirkan, nama Abu Ahmad disandarkan kepada kakenya, sebagai orang pertama yang membangun desa itu. Lahir pada bulan mei 1910, Syeikh Abdul Halim Mahmud dilahirkan dalam suasan penuh cinta dan kasih sayang,  sebab mempunyai nasab Husein bin ‘ali seorang ahlu bait yang mana Allah merahmatinya, harum namanya semerbak baunya.
Tepatnya pada tahun 1923 Setelah lulus dari sekolah dasar dan berbarengan dengan hatam hafalan al-Quran, bapaknya mengirimnya ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya di al-Azhar, pada waktu itu al-Azhar antara masjid dan lembaga pendidikannya  memiliki ikatan yang sangat erat, begitu juga masjid-masjid lain.
Setelah 2 tahun bergelut dengan ilmu-ilmu al-Quran, hadis dan fiqh di masjid al-azhar, dibangunlah sekolah al-Azhar di daerah Zaqaziq, melihat kedekatannya dengan asuhan kedua orang tuanya maka Syeikh Abdul Halim Mahmud dipindahkan oleh bapaknya disitu. Pada saat itu beliau menginjak sekolah I’dadi tahun ketiga, setelah lulusnya dari sekolah I’dadi, beliau meneruskan ke Tsanawiyah hingga ujian akhir tahun datang.  Ujian harus ditempuh 2 tingkat, tingkat pertama pada saat itu tidak ada yang lulus kecuali beliau, akhirnya meneruskan ke ujian tingkat 2 yaitu ujian nahwu sharaf, akhirnya beliau menghafal alfiah karangan Ibnu Malik sampai datang hari ujian dan menjawabnya dengan sangat mudah, dan lulus. Setelah mendapatkan ijazah tsanawiyah, beliau kembali ke masjid al-Azhar untuk meneruskan pendidikannya dan berguru kepada para masyayikh.
Pada saat itu al-Azhar masih belum memiliki perkuliahan yang khusus seperti apa yang kita lihat dewasa ini. Al-Azhar yang berdiri tegak menjaga agama asal-usulnya dan syariahnya serta menyebarkan risalah agama dengan metodenya dan dengan cara perdamaian. Salah satu guru yang mendominasi dalam gerakan berfikir adalah Syeikh Musthafa Abdu ar-Razziq, dan membuat 3 kerangka penting dalam pemikirannya, yaitu: logika muslimin adalah ushul fiqh, logika Aresto tidak memiliki manfaat, terlalu banyak berdebat adalah suatu yang hal yang tidak ada habisnya.
Setalah beberapa tahun berguru dengan para masyayikh di masjid al-Azhar  akhirnya beliau mendapatkan syahadah al-alamiyah dan membuat bapaknya sangat bangga karena anaknya adalah yang paling muda dari teman-temannya yang mendapatkan syahadah al-alamiyah. Bapaknya juga sangat bangga kepada anaknya karena bisa mencapai cita-cita bapaknya yang ingin menjadi pengajar di masjid al-Azhar,begitu juga bangga dengan anaknya karena lulus dengan baik.
Setelah mendapatkan syahadah al-alamiyah bapaknya mengirimnya ke perancis untuk meneruskan pendidikannya, pendidikan yang akan ditempuh beliau adalah mengenai pandangan orang barat terhadap Islam melewati ilmu sosiolagi, psikologi, filsafat, dan perbedaan agama.
Oktober 1932, Syeikh Abdul Halim Mahmud menginjakkan kaki kali pertamanya di Perancis, Kesan pertama beliau terhadap masyarakat perancis saat itu adalah tentang kebersihan dan kesemangatannya dalam melakukan apapun, sejak saat itu beliau ingin menerapkannya terhadap umat muslim khususnya Mesir.
Dua hal yang diingat beliau adalah gaya hidup masyarakat yang kontradiksi dengan ajaran Islam dan sebagian suasana paris yang pada saat itu banyak yang memeluk Islam. Kendalanya ternyata tidak hanya dalam kondisi gaya hidup yang kontradiksi, dalam perkuliahannya Syeikh Abdul Halim sangat terkejut ketika  mendapatkan kediktatoran para dosennya mengenai Islam, mereka meyakinkan kepada para mahasiswanya suatu hal yang masih belum pasti menjadi suatu hal yang sangat yakin. Lebih ironisnya lagi adalah mereka para dosen tidak memberikan kesempatan kepada para mahasiswanya untuk berdiskusi yang seharusnya dilakukan para dosen di perkuliahan, sehingga paham yang salah mengenai Islam tersebar, akan tetapi Syeikh Abdul Halim Mahmud menganggapnya sebagai suatu adaptasi yang harus dihadapi dan meneruskan pendidikannya sampai mendapatkan lisensi dari universitas.
Tersebarnya berita bahwa ada seorang Azhari yang sangat bersemangat dalam mengejar pendidikannya di paris, di tahun 1938 al-Azhar langsung membuat diplomasi resmi dengan pemerintah untuk membangun misi al-Azhar di paris, mengetahui itu, Syeikh Abdul Halim Mahmud berkeinginan meneruskan pendidikan doktornya di paris. 2 tahun menggeluti doktornya, akhirnya pada tanggal 8 juni 1940 beliau menyelesaikan doktornya dengan judul tesis “al-Haris bin Mahasabi” dalam tasawufnya dan mendapatkan predikat syaraf serta diterbitkannya di perancis dalam bahasa perancis.
Kontribusi ke al-Azhar
Setelah menyelesaikan amanatnya di departemen perwakafan, Syeikh Abdul Halim Mahmud bisa membangun 1500 masjid yang layak, memberikan ribuan halaqah untuk menghafal al-Quran, membangun seribu kelas pendidikan, dan menciptakan setiap masjid memiliki perpustakaan, dan yang lebih mengesankannya lagi yaitu beliau membangun semua itu selama satu tahun, akhirnya pada tahun 1973 bulan April beliau diangkat menjadi grand Syeikh al-Azhar.
Jalan pertama yang dilakukannya adalah memberikan wasiat kepada masyarakatnya untuk memperbanyak memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada sang pencipta, serta memberikan peringatan untuk bersiap-siap memerdekakan Negara dari segala hal yang menjajah. Karena sesungguhnya al-Azhar memerangi perancis, inggris dan yahudi, berangkat dari itu, beliau mengajak orang-orang yang berkecimpungan di al-Azhar untuk mengembalikan posisi al-Azhar dan para masyayikhnya, maka dari itu beliau mengeluarkan undang-undang Negara nomer 1098 tahun 1974 untuk merapihkan kepengurusan al-Azhar,
Setelah menyelesaikan kepengurusan al-Azhar, target berikutnya adalah menciptakan sekolah-sekolah al-Azhar. Dilatar belakangi dengan keilmuan islam yang kurang memadai pada masyarakat muslimin Mesir pada saat itu, dan dengan dukungan dari majma al-buhuts al-islamiyah begitu juga dengan keganjalan yang terjadi dalam sistem pendidikan jamiah, maka Syeikh Abdul Halim Mahmud mendirikan sekolah-sekolah al-Azhar yang terdiri dari sekolah menghafal al-Quran, sekolah ibtidaiyah (sekolah dasar), sekolah I’dadiyah (menengah pertama), sekolah tsanawiyah (menengah atas), sekolah askariyah (militer), sekolah guru dan sekolah anak putri.
Untuk membangun semua itu beliau mengedepankan tawakal  setelah membuat rencana dan mencari dananya, dan keistimewahannya lagi yaitu beliau tidak hanya merencanakannya dengan orang-orang yang berkecimpung dengan al-Azhar akan tetapi memusyawarahkannya dengan yang lain yang lebih berpengalaman dalam hal itu dan juga bertanya-tanya dengan para guru dan para sesepuhnya. sampai orang orang yang berkecimpung dalam hal itu menggapnya tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah direncanakannya, padahal beliau merencakannya dengan sangat teliti, ketika beliau memberikan apa yang dirancang seketika itu orang-orang yang berkecimpung dalam hal itu langsung kaget dengan rencananya yang sangat matang, begitulah Syeikh Abdul Halim melakukannya yang ia teguhkan adalah keiklasannya yang sangat agung.
Melihat pada saat itu Israel mencetak al-Quran untuk dirubah dengan penyelewengan dan penyimpangan, begitu juga dengan hasil muktamar majma albuhus al-Islamiyah untuk mencetak al-Quran dan menjaga al-Quran dengan rasmul usmani, maka di tahun kepengurusannya tepatnya pada tahun 1976 dicetaklah mushaf al-Azhar dengan rasmul utsmani, tidak berhenti disitu pada musim panas tahun 1964, Syeikh Abdul Halim Mahmud juga membuat radio alquran yang dengan perantara ini, pesan Islam bisa tersampaikan kepada umat muslim dan dengan tujuan memperbaiki kehidupan umat muslim.
Setelah memberi dedikasinya kepada al-Quran, tahapan berikutnya sebagai grand Syeikh al-Azhar yaitu meng-implementasikan hukum syariah Islamiyah. Tahap pertama adalah pengkodifasian al-Azhar dan memberikannya kepada yang berwenang ke Negara, setelah itu barulah terwujud hukum hudud dan menyerahkannya kepada masyarakat. Tidak hanya mengkodifikasi hukum hudud saja, Syeikh Abdul Halim Mahmud juga mengatur undang-undang perdata dengan secara mendetail dan berasaskan al-Quran dan sunnah nabi.
Setelah menyelasaikan pentertiban kepengurusan al-Azhar, pembangunan sekolah-sekolah al-Azhar, mencetak mushaf al-Azhar dan membuat radio al-Quran serta pengkodifasian hukum syariah Syeikh Abdul Halim Mahmud memperluas kuliah universitas al-Azhar. Untuk mengimplementasi rencananya yang ingin menjadikan penduduk muslim Mesir pandai dalam ilmu dan kuat dalam iman, maka beliau memperluas fakultas di provinsi; kuliah da’wah di tonto, kairo dan manufiah, kuliah ushuluddin di mansurah, fayyum, suhaaja; fakultas syariah di tonto, tohtaa, suhaaja, bani suef, zaqaziq; fakultas ilmu pengetahuan informasi dan tarbiyah di manufiah; fakultas kedokteran di bani suef. Begitu juga beliau membangun kuliah ilmu pasti dan kuliah khusus al-Quran dan ilmunya. Selain perluasan fakultas yang dikhususkan untuk laki-laki, Syeikh Abdul Halim Mahmud juga memperluas fakultas khusus untuk perempuan seperti fakultas kedokteran, perdagangan, studi keIslaman dan kearaban, studi tentang kemanusiaan  ( humaniora ), da’wah.
Setelah menyelesaikan perluasan fakultas di berbagai provinsi, Syeikh Abdul Halim Mahmud membangun pengembangan karakter disetiap masyarakat muslim Mesir. Selain dengan perantara lembaga pendidikan yang telah dibangunnya, baik ketika beliau menjabat sebagai departemen perwakafan maupun ketika beliau menjadi grand Syeikh al-azhar, beliau juga mendirikan televisi al-Azhar yang sangat produktif menyampaikan pesan pesan Islam kepada masyarakat selain radio, begitu juga dengan da’wahnya yang langsung diberikan kepada masyarakat melewati tulisannya dan lisannya, memberikan tausiah di universitas, sekolah-sekolah dan masjid, beliau juga tidak jarang mengisi majelis di televisi dan radio.
Akhir dedikasinya kepada masyarakat muslimin adalah pendirian pergerakan-pergerakan yang dipimpin langsung oleh Syeikh Abdul Halim Mahmud, pergerakan pertama adalah pergerakan memerdekakan tanah yang dikuasi oleh musuh Islam,  akademi militernya yang dari dulu disiapkan dikunjunginya pada saat itu, tidak hanya mereka yang sekolah di akedemi militer untuk memberikan jihadnya melawan musuh dari segi kekuaatan berperang, akan tetapi beliau meminta semua masyarakat muslimin arab untuk berjihad dengan berperang atau dengan finansial, maka pada tahun 1967 kembalilah tanah-tanah yang dikuasai oleh Israel, beliau juga mengembalikan baitul maqdis sebagai tanah muslimin arab serta mengembalikan hak-hak orang palestina.
Selain mngembalikan tanah-tanah yang dikuasai Israel, Syeikh Abdul Halim Mahmud juga menentang besar-besaran terhadap aliran komunisme dan aliran yang taasub kepada salibis, karena mereka adalah musuh Islam yang harus dilawan, dengan kekuatannya menyebarkan pesan-pesan Islam dan melawan musuh-musuh Islam maka Syeikh Abdul Halim Mahmud sudah melaksanakan kewajibannya sebagai grand Syeikh al-Azhar dengan baik dan sempurna.
Dengan kekuatannya dan jihadnya beliau menghidupkan kembali sunat nabi kedalam tubuh muslimin, mengembalikan al-Azhar kepengurusannya dan menjadi lebih baik, mendirikan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan dan kemiliteran, pengkodifikasian undang-undang, mencetak al-Quran dengan menjaga rosmul usmani, menjaga Islam dari segala hal yang bertentangan berlawanan, mengembalikan Baitul Maqdis dan berpergian ke setiap Negara-negara Islam untuk membangun kekuatan Islam dan kembali kepada al-Quran dan Hadis, maka selesailah amanatnya sebagai grand Syeikh Alazhar dengan keridlaan dari Allah dan kepemimipinanya berakhir dan pada tanggal 17 oktober tahun 1978 beliau wafat, maka beliau sebaik-baiknya manusia karena telah memberikan manfaat yang sangat banyak kepada muslimin.


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply