Peradaban Syi’ir Arabi - Modern - KMB Mesir
Kabinet Cekatan 2016-2017
» » » Peradaban Syi’ir Arabi - Modern


Dahulu masa jahiliyah (العصر الجاهلي) sekitar satu setengah abad sebelum datangnya agama Islam di Jazirah Arab, para peneliti sastra menamainya sebagai al-huqbahaz- zamaniyyah, yaitu masa kesempurnaan bahasa arab berupa puisi Jahily. Ketika menelisik Syi’ir arabi pada periode Jahilya banyak terdapat sejarah- sejarah kuno. Mulai dari susunan kata yang sangat sulit dipahami, juga terdapat didalamnya bentuk dan segi bahasa maupun lisan yang berbeda- beda.
Sebagai mana kita ketahui letak geografis Jazirah Arab yang tandus akan mempengaruhi cara berpikir orang gurun pasir, dan cara berpikir orang gurun ini termasuk kedalam akhlak atau perbuatan yang melekat pada masing- masing individu di wilayah tersebut. Maka melekatlah sifat keberanian, kedermawanan, menepati janji, dan benci terhadap pemaksaan. Sifat- sifat inilah yang melandasi cara berpikir para penyair Arab Jahily dalam membuat tema- tema syi’ir.
Sejarah berkembangnya syi’ir arab tidaklah mutlak akibat timbangan yang dihasilkan dari bentuk dan jenis syi’ir tersebut. Akan tetapi dari timbangan bentuk dan jenis syi’ir dapat  menghasilkan kata- kata terbaik dan mampu menghasilkan susunan kata- kata yang bagus. Apabila syi’ir dilukiskan dengan kata- kata indah sebagai luapan rasa penyair itu sendiri. Bukan sebagai kutipan dari orang lain melainkan asli dari sang penyair.
Pada zaman dahulu seorang penyair mempunyai gaya atau karakteristik terhadap syi’ir yang mereka buat. Salah satu tujuan mereka membuat syi’ir yaitu sebagai mata pencaharian. Sebutlah di syuq Ukadz. Disana banyak terdapat penyair yang bersorak ramai melantunkan syi’ir terbaiknya.
Berdasarkan studi komparatif antara sastra Arab pada periode Jahiliyah dan periode- periode setelah munculnya Islam bias ditarik kesimpulan bahwa peran Islam begitu besar dalam perubahan sosiokultural bangsa Arab. Kita bias menyaksikan bagaimana sebuah bangsa yang terjembab dalam paganism dan dekadensi moral mampu diselamatkan oleh Islam menuju kehidupan yang penuh petunjuk dan kemuliaan.
Karya sastra pada periode jahily menggambarkan keadaan hidup masyarakat dikala itu, dimana mereka sangat fanatik terhadap kabilah atau suku mereka. Sehingga syi’ir- syi’ir yang muncul tidak jauh dari kebanggaan tiap kabilah masing- masing. Begitu pula dengan khutbah yang berfungsi sebagai pembangkit semangat berperang saat itu. Namun demikian karya- karya sastra pada periode jahilyah juga tidak luput dari nilai- nilai positif yang dipertahankan oleh Islam seperti hikmah dan semangat juang.
Hampir seluruh syi’ir pada periode jahily diriwayatkan dari mulut ke mulut kecuali yang termasuk kedalam Al- Muallaqat. Yaitu, Umru Al- Qais,  Zuhaer bin Abi Sulma, Thorfah bin Abd, Antaroh bin Syadad, Amr bin Kaltsum,  Al-harits bin Hilzah, Labid bin Robi’ah. Hal ini disebabkan masyarakat jahiliyah sangat tidak terbiasa dengan budaya tulis menulis.Pada umumnya syi’ir- syi’ir jahiliyah dimulai dengan mengenang puing- puing masa lalu yang telah hancur, berbicara tentang hewan- hewan yang mereka miliki dan menggambarkan keadaan alam tempat dimana mereka tinggal. Beberapa kosa kata pada periode jahiliyah sulit dipahami dan jarang digunakan dalam bahasa arab saat ini.
Berikut ini berbagai jenis syi’ir yang terdapat dalam periode jahiliyah, diantaranya:
1.      Al-Madh atau pujian
2.      Al- Hija atau hinaan/cercaan
3.      Al-Fakhr atau membangga
4.      Al- Hamasah atau semangat untuk membangkitkan ketika ada suatu peristiwa semacam perang atau membangun sesuatu
5.      Al-Ghozal atau ungkapan cinta bagi sang kekasih
6.      Al- I’tidzar atau permohonan maaf
7.      Ar-Ritsa atau belasungkawa
8.      Al-Washf atau penjelasan terhadap sesuatu dengan simbolistik atau ekspresionistik
Pada periode ini terdapat beberapa Nasr, yaitu Khutbah, Hikmah, dan Matsal.
Seiring berjalannya waktu bentuk bahasa dan jenis syi’ir pun mulai berkembang. Contohnya ketika melihat buku-buku yang berasal dari Yunani dan Roma terdapat banyak perjanjian- perjanjian yang menggunakan bahasa arab. Akan tetapi bentuk bahasa dan kosa kata yang digunakan sangatlah berbeda dengan periode Jahily. Sekalipun kita melihat dari sebagian sejarah periode Jahily. Bahasa yang  digunakan syi’ir sangatlah bebeda dengan bahasa lisan sehari- hari. Banyak bercerita panjang lebar dan lengkap juga menggunakan kosa kata klise.
Diriwayatkan oleh Jahidz dalam kitab “hayawan” bahwa semua orang berpendirian teguh dalam pengaruh kehidupannya masing- masing, seperti sebuah syi’ir yang terdiri dari berbagai macam bentuk. Banyak mengutip dari kata- kata Jahily dan menggabungkan dalam sebuah syi’ir. Didalam syi’ir arab terdapat timbangan jenis kata dan kesesuaian huruf akhir. Dalam bahasa arab biasa dikenal dengan ilmu Arudh.
Dahulu mereka menggabungkan tiap kata- kata kuno dengan sastra modern dalam membuat syi’ir, sehingga menghasilkan tiap bait syi’ir yang begitu indah.  Akan tetapi Al- Hamadani dan Yakuth menyebutkan dalam riwayatnya Bani Ghamdan, yaitu Liyasarah bin Yahsub raja Himyar bahwa syi’ir sebelum masehi bias disebut Fakhr. Dan banyak lain jenisnya. Saat ini sy i’ir bias dikatakan sebagai puisi.
Dewasa ini sastra banyak jenisnya. Seiring dengan ruang dan waktu bias dilihat dari bentuk dan sisinya. Dilihat dari bentuknya sastra terdiri dari 4 bentuk, yaitu:
1.      Prosa, yaitu bentuk sastra yang diuraikan menggunakan bahasa bebas dan panjang tidak terikat oleha turan- aturan seperti dalam puisi.
2.      Puisi, yaitu sasrta yang diuraikan dengan menggunakan bahasa yang singkat dan padat serta indah.
3.      Prosaliris, yaitu bentuk sastra yang disajikan seperti bentuk puisi namun menggunakan bahasa yang bebas terurai seperti pada prosa.
4.      Drama, yaitu bentuk sastra yang dilukiskan dengan menggunakan bahasa yang bebas dan panjang, serta disajikan menggunakan dialog atau monolog. Ada dua pengertian dalam drama. Drama dalam bentuk naskah dan drama yang dipentaskan.
Sedangkan dilihat dari sisinya, sastra terdiri dari 4 macam, yaitu:
1.      Epik, yaitu karangan yang melukiskan sesuatu secara obyektif tanpa mengikutkan perasaan dan pikiran pribadi pengarang.
2.      Lirik, yaitu karangan yang berisi curahan perasaan pengarang secara subyektif.
3.      Didaktif, yaitu karya sastra yang isinya mendidik penikmat atau pembaca tentang masalah moral, tatakrama, norma, agama, dan lain sebagainya.
4.      Dramatik, yaitu karya sastra yang isinya melukiskan sesuatu kejadian (baik atau buruk) dengan pelukisan yang berlebih- lebihan.
Dan dilihat dari sejarahnya, sastra terdiri dari 3 bagian, yaitu:
1.      Kesusastraan lama, yaitu kesusastraan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama.
2.      Kesusatraan peralihan, yaitu kusastraan yang hidup misalnya di zaman Abdullah bin Abdul kadir Munsyi, seperti dalam salah satu karyanya hikayat Abdullah.
3.      Kesusastraan Modern, yaitu kesusastraan yang hidup pada zaman sekarang.
Sekarang sastra modern diakui sebagai karya pribadi. Bentuk sastra modern umumnya berbentuk novel atau ceritapendek. Kosa kata yang digunakan isinya berkisar manusia dengan kehidupan atau lingkungannya sehari- hari. Karya sastra modern cara berceritanya singkat, padat, dan lugas serta bersifat nasional, bahkan mendunia, tetapi tidak lepas dari daerah.

ShintaDestiyana, 3 lughohArabiyah, Al-AzharUniv-Cairo

Sumber :TarikhAdabArabi, Mustafa ShodiqAr- Rafi’i

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply