IDUL ADHA, CINTA DAN KEHAMBAAN - KMB Mesir
Kabinet Cekatan 2016-2017
» » IDUL ADHA, CINTA DAN KEHAMBAAN



Oleh: Iin Suryaningsih
Idul Adha, selalu  mengingatkan kita pada sebuah kisah yang maha luar biasa. di abadikan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an, tentang nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan putranya yaitu Ismail AS, yang memberikan kita pelajaran tentang makna cinta dan kehambaan pada puncaknya yang tertinggi.

Ditinjau dari segi maknanya, kata Idul Adha terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata pertama I’dul berasal dari kata ‘âda-ya’ûdu-awdatan wa ‘îdan yang memiliki arti kembali. Sedangkan Adha berasal dari kata Adha-Yudhî-udhiyatan yang berarti berkorban. Dengan demikian, Idul Adha adalah suatu perayaan yang dilakukan oleh umat sebagai tekad untuk kembali kepada semangat pengorbanan.

Pengertian ini tentu sangat sederhana. Namun, jika kita kaji lebih jauh makna filosofis yang ada padanya akan kita dapati banyak hal mendasar dalam kehidupan kita. Bahwa kehidupan ini adalah jihad atau perjuangan
(al hayâtu jihâdun), sedangkan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Dengan demikian, sifat berkorban adalah sifat keharusan bagi setiap insan yang pada akhirnya memberikan kesadaran.

Sedangkan ketika kita tilik dari kata 
kurban yang lebih dikenal di kalangan muslim Indonesia, sesungguhnya juga berasal dari bahasa Arab “Qurbân” yang asalnya “Qaruba-yaqrabu-qurbun wa qurbân” yang artinya kedekatan yang sangat. Kata “qurbân” adalah bentuk tafdîl yang menunjukkan penguatan terhadap sifat yang dikandung dari kata tersebut. Dengan demikian, kurban adalah wujud kedekatan yang sangat tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dengan simbol penyembelihan hewan, seorang hamba diharapkan semakin dekat (qarîb) dengan Rabb-nya. Penyerahan pengorbanan dan tersimbahnya darah dari hewan adalah simbol penyerahan hidup seorang hamba kepada Rabbul ‘âlamîn sekaligus pembuktian dari ikrarnya: “Katakanlah: Seungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup dan matiku adalah milik Allah, Rabb seluruh alam.” (Q.S. Al-An’am [06]: 162)
Pada akhirnya akan terpatri suatu hubungan yang dibangun di atas landasan“radhiyatun mardhiyâtun” yaitu seorang hamba yang memiliki jiwa yang ridha lagi diridhai oleh Allah SWT.

Penjelasan kejiwaan seperti ini, juga sejalan dengan makna lain yang dikandung oleh kata “Adha”, yang semakna dengan “Dhuha”. Dalam bahasa Arab, selain berarti pengorbanan, kata dhuha juga berarti waktu dimana matahari sedang menapaki jenjang awal dalam manerangi bumi yang sebelumnya diselimuti kegelapan. Artinya pengorbanan yang dilakukan seorang hamba yang beriman sesungguhnya juga merupakan mentari (penerang) jiwa dalam menapaki kehidupannya menuju alam kehidupan sejatinya yang lebih terang benderang.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sesungguhnya telah ada contoh teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.”    (QS. Al Mumtahanah: 4)

Minimal ada Empat pelajaran yang terdapat dari kisah nabi Ibrahim as dan keluarganya:
Pesan Pertama: Berbaik sangka kepada Allah SWT
Di dalam kitab;  Anbiyaa Allah (Nabi–Nabi Allah)  yang dikarang oleh Ahmad Bahjat beliau menjelaskan: Pada suatu hari, Ibrahim AS terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba dia memerintahkan kepada istrinya, Siti Hajar, untuk mempersiapkan perjalanan dengan membawa bayinya. Perempuan itu segera berkemas untuk melakukan perjalanan yang panjang. Pada saat itu nabi Ismail masih bayi dan belum disapih.

Ibrahim AS melangkahkan kaki menyusuri bumi yang penuh dengan pepohonan dan rerumputan, sampai akhirnya tiba di padang sahara. Beliau terus berjalan hingga mencapai pegunungan, kemudian masuk ke daerah jazirah Arab. Ibrahim  menuju ke sebuah lembah yang tidak di tumbuhi tanaman, tidak ada buah-buahan, tidak ada pepohonan, tidak ada makanan, tidak ada minuman, tempat itu menunjukkan tidak ada kehidupan di dalamnya.

Di tempat itu beliau turun dari punggung hewan tunggangannya, kemudian menurunkan istri dan anaknya. Setelah itu tanpa berkata-kata beliau meninggalkan istri dan anaknya di sana. Mereka berdua hanya dibekali sekantung makanan dan sedikit air yang tidak cukup untuk dua hari. Setelah melihat kiri dan kanan beliau melangkah meninggalkan tempat itu.

Tentu saja Siti hajar terperangah diperlakukan demikian, dia membuntuti suaminya dari belakang sambil bertanya“Ibrahim hendak pergi ke manakah engkau?” Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada sesuatu apapun ini?

Ibrahim AS tidak menjawab pertanyaan istrinya. Beliau terus saja berjalan, Siti hajar kembali mengulangi pertanyaannya, tetapi beliau tetap membisu. Akhirnya Siti hajar paham bahwa suaminya pergi bukan karena kemauannya sendiri. Dia mengerti bahwa Allah memerintahkan suaminya untuk pergi. Maka kemudian dia bertanya,“apakah Allah yang memerintahkanmu untuk pergi meninggalkan kami? Ibrahim menjawab, “benar“.  Kemudian istri yang shalihah dan beriman itu berkata,” kami tidak akan tersia-siakan selagi Allah bersama kami. Dia-lah yang telah memerintahkan engkau pergi. Kemudian Ibrahim terus berjalan meninggalkan mereka.

Lihatlah, bagaimana nabi Ibrahim dan Siti hajar, mampu berbaik sangka kepada Allah SWT mereka meyakini bahwa selagi mereka bersama Allah, maka tidak akan ada yang menyengsarakannya, tidak akan ada yang dapat mencelakainya, tidak akan ada yang dapat melukainya.

Bila kita lihat banyaknya manusia yang  frustasi dalam kehidupan ini atau banyaknya manusia sengsara bukan karena sedikitnya nikmat yang Allah berikan kepada mereka akan tetapi karena sedikitnya husnu dzon (berbaik sangka) kepada kebaikan Allah, Padahal nikmat yang Allah berikan lebih banyak dari pada siksanya. Oleh karena itu kita harus berbaik sangka kepada Allah karena Allah menjelaskan dalam hadits qudsi bahwa Dia sesuai prasangka hambanya;

Dari Abu Hurairah RA berkata, bersabda Rasulullah SAW: Allah SWT berfirman: “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan mendekatkannya kepada-ku sedepa; dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari.  (Bukhari dan Muslim).

Kita harus belajar kepada Siti hajar walaupun dia seorang wanita yang baru mempunyai anak bayi, kemudian di tinggalkan suaminya di padang pasir yang gersang, tetapi dia yakin jika ini adalah perintah Allah maka Allah tidak akan menyia-nyiakannya. Allah pasti akan membantunya, kisah ini bukan hanya untuk Siti hajar saja, kisah ini bukan untuk zaman itu saja, akan tetapi kisah ini akan terus berulang pada setiap zaman bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang senantiasa berbaik sangka kepada-Nya dalam segala hal.

Pelajaran kedua: Mencari rezeki yang halal
Setelah Ibrahim AS meninggalkan istri dan anaknya untuk kembali meneruskan perjuangannya berdakwah kepada Allah SWT. Siti Hajar menyusui Ismail sementara dia sendiri mulai merasa kehausan. Panas matahari saat itu menyengat sehingga terasa begitu mengeringkan tenggorokan. Setelah dua hari, air yang menjadi perbekalanpun habis, air susunya pun kering. Siti hajar dan Ismail mulai kehausan. Pada waktu yang bersamaan, makanan pun habis, kegelisahan dan kekhawatiran membayangi Siti hajar.

Ismail mulai menangis karena kehausan. Kemudian sang ibu meninggalkannya sendirian untuk mencari air. Dengan berlari–lari kecil dia sampai di kaki bukit Shafa. Kemudian dia naik ke atas bukit itu. Di taruhnya kedua telapak tangannya di kening untuk melindungi pandangan matanya dari sinar matahari, kemudian dia menengok ke sana kemari, mencari sumur, manusia, kafilah atau berita. Namun tidak ada sesuatu pun yang tertangkap pandangan matanya. Maka dia bergegas turun dari bukit Shafa dan berlari–lari kecil sampai di bukit Marwa. Dia naik ke atas bukit itu, barangkali dari sana dia melihat seseorang, tetapi tidak ada seorang pun.

Hajar turun dari bukit Marwa untuk menengok bayinya. Dia mendapati Ismail terus menangis tampaknya sang bayi benar-benar kehausan. Melihat anaknya seperti itu, dengan bingung dia kembali ke bukit Shafa dan naik ke atasnya. Kemudian dia ke bukit Marwa dan naik ke atasnya, Siti hajar bolak–balik antara dua bukit, Shafa dan Marwa, sebanyak tujuh kali.

Ada rahasia yang jarang di kupas dari kejadian ini yaitu kesungguhan Siti hajar dalam mencari air, di keluarkan segala tenaganya bolak balik dari Shafa dan Marwa, walaupun bolak balik dari Shafa dan Marwa belum mendapatkan air dia terus berusaha. Walaupun akhirnya air itu ada di dekat anaknya sendiri. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjemput rezeki dengan mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki karena Kita di perintahkan bukan Cuma melihat hasil tapi juga usaha dan tenaga yang kita keluarkan, Rasulullah SAW sangat mencintai orang-orang yang bekerja keras.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Rasulullah melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitaman seperti lama terpanggang matahari. Rasulullah bertanya, ‘Kenapa tanganmu ?’Sa’ad menjawab, ‘ Wahai Rasulullah, tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku,’Seketika itu, Rasulullah mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak pernah tersentuh api neraka”


Pelajaran yang ke tiga: Berkurban untuk Allah SWT
            Pada tahap inilah kebesaran cinta dan kehambaan seorang kholilullah benar-benar di uji. Mulai dari jiwa dermawan Ibrahim saat itu, Allah SWT menguji atas ucapan yang keluar dari lisanNya bahwa “Jika saja aku di karuniai seorang putra dan Allah SWT menginginkannya, niscaya aku akan memberikannya sebagai tanda cintaku kepadaNya”.

Berlalunya masa dan kian bergantinya musim, Allah SWT mengabulkan doa Ibrahim AS dengan mengkaruniakannya seorang putra terlahir dari rahim istrinya, Siti Hajar yang kemudian di beri nama Ismail. Semakin hari, tiada masa yang di jalani oleh Ibrahim dan istrinya, kecuali sangat mencintai sang putra yang tumbuh kian besar, cerdas dan shaleh. Sampai pada suatu malam yang allah SWT tentukan, hadirlah sebuah mimpi dalam tidur Ibrahim bahwa Allah SWT memintanya untuk menyembelih putra tercintanya itu sebagai persembahan rasa kehambaan dirinya terhadap allah SWT. Ibrahim pun tersentak akan mimpi yang tidak pernah terbayangkan sedemikian beratnya itu.

            Merasa tak sanggup untuk mengutarakan isi pesan tersebut, Ibrahim hanya mampu berserah diri dalam setiap doa yang ia panjatkan, dengan selalu meminta petunjukNya, agar terhindar dari godaan syetan. Kali kedua mimpi itupun menghampiri Ibrahim, dan terasa lebih jelas dari sebelumnya. Dan dalam suatu kesempatan, ia utarakan mimpi tersebut kepada putranya sekedar ingin mengetahui  pendapatnya tanggapan putranya itu.

Sejak Ismail bertambah besar, hati Ibrahim AS memang tertambat kuat kepada putranya. Tidak mengherankan karena Ismail hadir di kala usia Nabi Ibrahim sudah tua. Itulah sebabnya beliau sangat mencintainya. Namun Allah hendak menguji kecintaan Ibrahim AS dengan ujian yang besar disebabkan cintanya itu.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.  (QS. Ash Shaaffat: 102 )

Sangat mengejutkan Ibrahim saat mendengar jawaban sang putra yang sangat jelas di abadikan oleh Allah dalam ayat di atas,tak bisa terbayangkan, anak seusia Ismail mampu menangkap pesan tersirat dari Allah SWT melalui ayahnya itu, dan bahkan mampu menerimanya dengan tanpa ragu.

Tiba saatnya perintah allah SWT ditunaikan, kedua hamba shaleh inipun mantap untuk berserah diri pada takdir yang akan dituliskan untuknya. Bermacam godaan datang kepada mereka untuk menggagalkan prosesi tersebut, namun kehambaan dan kecintaan yang terpatri dalam hati mereka jauh lebih kuat dari apapun. Saat pisau hendak menyentuh leher sang putra, seraya bertakbir.. Ibrahim pun siap menyembelih putranya, seketika itu pula Allah SWT memerintahkan malaikat untuk menukar ismail dengan domba, yang kemudian tersembelih sebagai kurban, Allahu akbar.

Pelajaran keempat adalah Mendidik Keluarga
Nabi Ismail tidak akan menjadi anak yang penyabar jika tidak mendapat pendidikan dari ibunya dan Siti hajar tidak akan menjadi seorang yang penyabar jika tidak di didik oleh nabi Ibrahim AS. Dan nabi Ibrahim AS tidak akan dapat sabar jika tidak didikan dari Allah SWT melalui wahyuNya.

Seorang anak dalam perkembangannya membutuhkan proses yang panjang, maka peran orang tua dalam membentuk perilaku yang berakhlaq mulia sangat dibutuhkan, perhatian sempurna kepada anak semenjak dari masa mengandung, melahirkan hingga sampai masa Kewajiban ini diberikan di pundak orang tua oleh agama dan hukum masyarakat. Karena seseorang yang tidak mau memperhatikan pendidikan anak dianggap orang yang mengkhianati amanah Allah. Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa Allah SWT. Pada hari kiamat nanti akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang perlakuan mereka kepada anaknya.

Empat tahap pelajaran yang Allah berikan kepada kita melalui perjalanan nabi Ibrahim AS beserta keluarganya, menunjukkan betapa tidak mudah memperlakukan nilai cinta dan kehambaan kita kepada allah SWT, karena Allah senatiasa akan menguji setiap langkah kita, mulai dari yang termudah sampai pada titik yang terberat. Maka sejarah Ibrahim dengan keluarganya ini menjadi salah satu yang terpenting sehingga Allah mengabadikannya dalam al-Qur’an, sebagai salah satu keluarga yang menjadi teladan bagi kaum muslimin.

Moment penyembelihan Ismail saat itu, di anggap sebagai wujud kehambaan tertinggi bagi Ibrahim sekeluarga karena mampu melewati segala godaan dan ujian yang maha berat, sebelum akhirnya mereka tau bahwa itu semua adalah bagian dari rencana allah SWT untuk menaikan derajatnya sebagai kekasih Allah. Dan saat yang sama pula, nilai kehambaan kita kepada Allah mampu di wujudkan dengan mengulang momen tersebut dalam idul adha di tiap tahunnya. Penyembelihan hewan kurban adalah symbol dari ketakwaan kita kepada Allah juga meningkatkan jiwa sosial kita terhadap sesama untuk saling berbagi, dan di harapkan rasa cinta tersebut senantiasa ada dalam hati kita kapan dan di manapun serta dalam kondisi seperti apapun itu, sebagaimana bayi yang terlahir suci dan tidak berdaya, butuh tangan untuk menopangnya, butuh cinta untuk membuatnya tumbuh bahagia, seperti itulah kita semua hidup dalam kebersaman, harus terbiasa terus membantu satu sama lain.

Maka dalam menyambut hari besar seperti yang kita kenal sebagai idul adha saat ini, umat muslim dari segala penjuru dunia, berbondong-bondong mengunjungi baitullah untuk melukiskan sejarah diri dan keluarganya berada di tempat terjadinya sebuah proses maha besar Ibrahim as dengan keluarganya dengan menjalankan semua ritual ibadah yang telah allah patenkan menjadi syariat agama kita yaitu haji dan umroh. Sedangkan kita yang berada di tanah air, turut serta berbagi kebahagiaan dengan dilaksanakannya kurban di berbagai tempat dan berkumpul bersama kerabat serta handai taulan.

            

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply