Ibadah Kurban dalam Tinjauan Syari’at - KMB Mesir
Kabinet Cekatan 2016-2017
» » » Ibadah Kurban dalam Tinjauan Syari’at

Oleh : Miftah Firdaus,

Hari raya Idul Adha yang didalamnya disyariatkan untuk memotong hewan kurban, merupakan puncak dari serangkaian ibadah haji yang dirayakan tidak hanya oleh umat muslim yang sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci Makkah, tetapi juga dirayakan dengan penuh suka cita oleh umat muslim di seluruh dunia. Sebagai bentuk pengorbanan sebagai hamba Allah SWT dan kasih sayang kita terhadap sesama.“Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan ber-kurban-lah.” (QS. AL-Kautsar: 1-2)
Tinjauan Historis
Orang yang pertama kali melakukan Qurban adalah putra Adam, yaitu Qabil dan Habil yang berlomba untuk memberikan hadiah yang terbaik kepada Allah SWT. Dan ternyata Allah hanya menerima Qurban yang diberikan oleh Habil karena didasari oleh keimanan dan keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini disebutkan dalam al-Qur’an: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan Qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (Qurban) dari orang-orang yang bertakwa“. (QS. Al-Maidah: 27)
Begitu juga persembahan manusia ini dikenal oleh tradisi agama pada masa Mesir kuno, India, Cina, Irak dan lainnya. Kaum Yahudi juga mengenal kurban manusia hingga masa perpecahan. Kemudian lama-kelamaan kurban manusia diganti dengan kurban hewan atau barang berharga lainnya. Dalam sejarah Yahudi, mereka mengganti kurban dari menusia menjadi sebagian anggota tubuh manusia, yaitu dengan khitan. Kitab Injil penuh dengan cerita kurban. Penyaliban Isa AS menurut umat Nasrani merupakan salah satu kurban teragung. Umat Katolik juga mengenal kurban hingga sekarang berupa kepingan tepung suci. Pada masa jahilyah Arab, kaum Arab mempersembahkan lembu dan onta ke Ka'bah sebagai kurban untuk Tuhan mereka. 

Ketika Islam turun diluruskanlah tradisi tersebut dengan ayat Allah: 5. 2. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah (389).Kemudian pada generasi selanjutnya, ibadah Qurban yang disyariatkan untuk kaum muslimin adalah Qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, ketika mendapatkan ujian keimanan agar menyembelih putra terkasihnya Ismail AS.Dengan keyakinan yang mantap dan sikap berkorban yang besar, maka Nabi Ibrahim bersedia menyembelih putranya tersebut.Namun kemudian Allah menggantinya dengan sesembelihan yang agung sebagai ganti dari diri nabi Ismail AS.Akhirnya, hingga sekarang, kisah tersebut yang melatar belakangi ditetapkannya perintah penyembelihan hewan Qurban pada hari raya Idul Adha. Hal ini disebutkan dalam al-Qur’an:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah  membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Al-Shaffat: 102-107)
Hukum Qurban:
Mayoritas ulama terdiri antar lain: Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Bilal, Abu Mas’ud, Said bin Musayyab, Malik, Syafii, Ahmad, Abu Yusuf dll. Mengatakan Qurban hukumnya sunnah, barangsiapa melaksanakannya mendapatkan pahala dan barang siapa tidak melakukannya tidak dosa dan tidak harus qadla, meskipun ia mampu dan kaya.Qurban hukumnya sunnah kifayah kepada keluarga yang beranggotakan lebih satu orang, apabila salah satu dari mereka telah melakukannya maka itu telah mencukupi. Qurban menjadi sunnah ain kepada keluarga yang hanya berjumlah satu orang. Mereka yang disunnah berqurban adalah yang mempunyai kelebihan dari kebutuhan sehari-harinya yang kebutuhan makanan dan pakaian.

Untuk nisab Qurban,para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran seseorang disunnahkan melakukan Qurban. Imam Hanafi mengatakan barang siapa mempunyai kelebihan 200 dirham atau memiliki harta senilai itu, dari kebutuhan tinggal, pakaian dan kebutuhan dasarnya.Imam Ahmad berkata: ukuran mampu quran adalah apabila dia bisa membelinya dengan uangnya walaupun uang tersebut didapatkannya dari hutang yang ia mampu membayarnya.

Imam Malik mengatakan bahwa ukuran seseorang mampu Qurban adalah apabila ia mempunyai kelebihan seharga hewan Qurban dan tidak memerlukan uang tersebut untuk kebutuhannya yang mendasar selama setahun. Apabila tahun itu ia membutuhkan uang tersebut maka ia tidak disunnahkan berqurban.Imam Syafii mengatakan: ukuran mampu adalah apabila seseorang mempunyai kelebihan uang dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya, senilai hewan Qurban pada hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq.

Banyak sekali keutamaan dari penyembelihan hewan Qurban ini, salah satunya sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah RA. Rasulullah SAW bersabda: “Amal yang paling disukai Allah pada hari penyembelihan adalah mengalirkan darah hewan Qurban, sesungguhnya hewan yang diqurbankan akan datang (dengan kebaikan untuk yang melakukan Qurban) di hari kiamat kelak dengan tanduk-tanduknya, bulu dan tulang-tulangnya, sesunguhnya (pahala) dari darah hewan qurban telah datang dari Allah sebelum jatuh ke bumi, maka lakukanlah kebaikan ini”. (H.R. Tirmidzi).Hadist Ibnu Abbas Rasulullah bersabda: “Tiada sedekah uang yang lebuh mulia dari yang dibelanjakan untuk Qurban di hari raya Adha” (H.R. Dar al- Qutni).

Untuk waktu penyembelihan, Imam Nawawi menegaskan dalam syarah sahih Muslim bahwa waktu penyembelihan sebaiknya setelah shalat bersama imam, dan telah terjadi konsensus (ijma') ulama dalam masalah ini.Ibnu Mundzir juga menyatakan bahwa semua ulama sepakat mengatakan tidak boleh menyembelih sebelum matahari terbit.Adapun setelah matahari terbit, Imam Syafi'i menyatakan bahwa sah menyembelih setelah matahari terbit dan setelah tenggang waktu kira-kira cukup untuk melakukan sholat dua rakaat dan khutbah. Apabila ia menyembelih pada waktu tersebut maka telah sah meskipun ia shalat ied atau tidak.Tidak ada dalil yang jelas mengenai batas akhir waktu penyembelihan dan semua didasarkan pada ijtihad, yaitu didasarkan pada logika bahwa pada hari-hari itu diharamkan berpuasa maka selayaknya itu menjadi waktu-waktu yang sah untuk menyembelih Qurban.

Sedangkan hewan yang dijadikan Qurban:Imam Nawawi dalam syarah sahih Muslim menegaskan telah terjadi ijma' ulama bahwa tidak sah melakukan Qurban selain dengan onta, sapi dan kambing. Riwayat dari Ibnu Mundzir Hasan bin Sholeh mengatakan sah berqurban dengan banteng untuk tujuh orang dan dengan kijang untuk satu orang.Adapun riwayat dari Bilal yang mengatakan: “Aku tidak peduli meskipun berqurban dengan seekor ayam, dan aku lebih suka memberikannya kepada yatim yang menderita daripada berqurban dengannya”, maksudnya bahwa beliau melihat bahwa bersedekah dengan nilai qurban lebih baik dari berqurban. Ini pendapat Malik dan Tsauri. Begitu juga riwayat sebagian sahabat yang membeli daging lalu menjadikannya qurban, bukanlah menunjukkan boleh berqurban dengan membeli daging, melainkan itu sebagai contoh dari mereka bahwa Qurban bukan wajib melainkan sunnah.

Untuk hukum memakan daging Qurban yang dilakukan untuk dirinya sendiri, apabila qurban yang dilakukan adalah nadzar maka haram hukumnya memakan daging tersebut dan ia harus menyedekahkan semuanya. Adapun qurban biasa, maka dagingnya dibagi tiga, sepertiga untuk dirinya dan keluarganya, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga untuk disedekahkan.Membagi tiga ini hukumnya sunnah dan bukan merupakan kewajiban. Qatadah bin Nu'man meriwayatkan Rasulullah bersabda: “Dulu aku melarang kalian memakan daging qurban selama tiga hari untuk memudahkan orang yang datang dari jauh, tetapi aku telah menghalalkannya untuk kalian, sekarang makanlah, janganlah menjual daging qurban dan hadyu, makanlah, sedekahkanlah dan ambilah manfaat dari kulitnya dan janganlah menjualnya, apabila kalian mengharapkan dagingnya maka makanlah sesuka hatimu” (H.R. Ahmad).Wallahua’lam.





«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply