Belajar dari Ibrahim; Idul Adha dan Semangat Humanisme - KMB Mesir
Kabinet Cekatan 2016-2017
» » Belajar dari Ibrahim; Idul Adha dan Semangat Humanisme



Beberapa bulan belakangan kita dikejutkan oleh berita tentang sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam melakukan aksi yang tidak sejalan dengan semangat keislaman. Dalam aksinya, kelompok ini seringkali mempertontonkan aksi-aksi pemenggalan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak sejalan dengan prinsip mereka. Anehnya, tindakan ini –menurut anggapan mereka- ialah salah satu jalan pembelaan mereka terhadap Tuhan dan agama. Tuhan kemudian terkesankan haus darah dan melegalkan pembunuhan manusia atas nama diri-Nya, hal yang tentunya jauh dari substansi pesan tersirat dari kalimat basmalah yang selalu menjadi titik awal seorang muslim bersikap dan bertindak; "dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang". Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang ini pasti tidak sama sekali meridhoi pembunuhan manusia tanpa dasar yang kuat dan argumentasi maslahat yang lebih besar. Para pelaku aksi barbar ini mungkin alpa atau bahkan tidak mengerti sama sekali bahwa prinsip universal hukum agama (maqashid al-syari'ah) terbangun dari konsep al-Hifdzu (pemeliharaan); entah pemeliharaan terhadap jiwa/nyawa (al-nafs); akal (al-aqlu); agama (al-din); harta (al-mal); keturunan (al-nasl). Itu berarti, dengan melegalkan segala tindak teror, pembunuhan dan kekerasan berarti sama saja telah mengenyampingkan tujuan dari hukm agama itu sendiri. Nabi Muhammad Saw. sendiri bahkan pada saat Hajjatul Wada (haji perpisahan) menegaskan poin pertama yang harus dijunjung oleh kaum muslimin yaitu hak hidup yang jauh dari pertumpahan darah dan kekerasan (al-Dima').

Nabi Ibrahim As. dan Kisah Pengorbanan

Semua berawal ketika Nabi Ibrahim As. diuji oleh Allah Swt. dalam mimpinya untuk menyemblih putra kesayangannya Nabi Ismail As. yang merupakan buah hati yang sudah begitu lama ditunggunya. Mendapatkan perintah itu, Nabi Ibrahim As. sempat merasa ragu untuk melakukannya, namun setelah mendapat kemantapan hati dari sang anak sendiri, barulah Nabi Ibrahim As. melaksanakan apa yang telah menjadi kewajibannya sebagai hamba yang harus taat kepada Tuhannya. Al-Qur'an menggambarkan kisah heroik ini, "Wahai ayahku!, jalankanlah apa yang diperintahkan kepada engkau, niscaya engkau akan mendapatkanku termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar (Ya abati if'al ma tu'mar, satajiduni insya Allah min al-shobirin)".
Walau Nabi Ibrahim As. masih tetap pada prinsip ketaatannya, namun dalam kisah ini digambarkan bahwa ia masih meminta pendapat kepada anaknya, apakah perintah ini baik dilaksanakan atau tidak. Disini terlihat bahwa Nabi Ibrahim As. hakikatnya bukan hanya berkomunikasi dengan Allah Swt. sebagai pemberi wahyu, namun juga kepada anaknya sebagai objek yang akan mendapatkan konsekuensi paling tragis dari ketaatannya. Akhirnya, saat pedang terhunus di leher Nabi Ismail As., Allah Swt. menggantinya dengan seekor domba besar sebagai sebuah tanda kelulusan dari ujian yang diberikan kepadanya.
Kisah ini juga bisa dibaca sebagai sebuah isyarat langit kepada manusia untuk menjaga nilai-nilai kemanusian yang begitu berharga. Allah Swt. dengan perantara kisah ini ingin mengajarkan kepada manusia bahwa darah dan nyawa sesamanya terlalu berharga untuk ditumpahkan tanpa arti, sekalipun penumpahan itu atas dasar ketaatan kepada perintah-Nya. Nabi Ibrahim As. sendiri menyadari bahwa perbuatan ini terkesan sangat tidak 'manusiawi', namun Nabi Ibrahim As. terlalu sungkan untuk bertanya kepada Penciptanya akan hakikat dari perintah tersebut. Kesungkanan Nabi Ibrahim As. dan kepasrahan mutlaknya kepada Allah Swt.-lah yang kemudian membukakan hikmah besar dibalik itu semua.
Ali Syariati, seorang tokoh intelektual dari Iran menilai makna dari digantikannya Nabi Ismail As. dengan seekor domba lebih harus diartikan sebagai pengajaran Allah Swt. kepada manusia, bahwa mengorbankan diri dan martabat manusia untuk dan demi Tuhan adalah tidak dibenarkan. Tuhan bukanlah Penguasa yang haus darah sehingga mendekatkan diri kepada-Nya harus dengan cara-cara yang keji dan tidak manusiawi.
Momen penyembelihan ini -yang harus kita yakini sebagai sebuah fakta sejarah- juga telah mengoreksi pemahaman bangsa-bangsa terdahulu yang gemar mengorbankan darah manusia –biasanya wanita/anak-anak- untuk dipersembahkan kepada tuhan-tuhan mereka. Jadi, dalam pengertian yang khusus, kisah Nabi Ibrahim As. ini selain dipahami sebagai puncak dari ketaatan dan kepasrahan juga bisa dibaca sebagai pesan langit untuk menghentikan pembunuhan manusia dengan dalih "membela kepentingan Tuhan", bukan hanya dalam tradisi Islam, namun semua agama yang mengaku memiliki hubungan teologis dengan kisah Nabi Ibrahim As..

Membumikan Semangat Kemanusiaan dalam Idul Adha

Pada Idul Adha tahun ini, dunia telah dikejutkan oleh agresi militer yang dilakukan oleh sekelompok orang yang dalam aksinya selalu memakai atribut dan simbol-simbol keislaman. Kelompok ini mengaku berjuang untuk menegakkan negara dan hukum Islam di Irak dan Suriah. Mereka cendrung melegalkan aksi-aksi pembunuhan dan penyembelihan kepada lawan ideologi mereka. Isu penegakan syariah dan hukum Tuhan dimanipulasi sedemikian rupa agar tindakan yang mereka lakukan terkesan mendapatkan legitimasi sah dari teks-teks agama. Fenomena ini merupakan efek dari kegagalan berpikir sebagian agamawan dalam meresapi semangat keberislaman yang utuh, disamping masih banyaknya kaum muslimin yang memiliki semangat berislam tinggi namun tidak dibarengi dengan pemahaman yang memadai.
Islam memang mengajarkan kita sikap tegas dalam menghadapi kebathilan, sebagaimana banyak pula teks keislaman yang juga membahas tentang pentingnya berjihad dan membela kepentingan agama ini. Namun disisi lain Islam juga mengajarkan kita untuk berpikir logis dan realistis dalam melihat keadaan, pun menekankan soal toleransi, kesantunan, kedamaian serta sikap menghargai harkat dan martabat manusia lainnya. Pembacaan teks agama yang terlalu kaku dan lugu semisal isu jihad misalnya, seringkali
akan mereduksi makna luhur dari teks yang berimbas pada pengaburan tujuan-tujuan syariah itu sendiri.
Begitu juga perayaan Idul Adha, tradisi berkurban yang kerap dilakukan tidak boleh diartikan sebatas ritual simbolik dari contoh ketaatan beragama an sich. Lebih jauh dari itu, ia harus dipahami sebagai salah satu wujud penjagaan Tuhan kepada hak dan martabat manusia.
Menjadi seorang muslim berarti ia memberikan kedamaian dan ketentraman kepada muslim lainnya, seperti sabda Nabi Muhammad Saw. "al-Muslimun man salima al-muslimuna min lisanihi wa yadihi". Bahkan dengan yang berbeda keyakinan, seorang muslim wajib menghargai dan menghormati hak-hak mereka. Sikap toleransi ini diajarakan oleh Nabi Muhammad Saw. sendiri pada saat membuat perjanjian damai dengan kaum musyrik di Madinah yang kita kenal dengan "Piagam Madinah", ini juga menginspirasi Umar bin Khattan Ra. membuat "Piagam Aelia" saat kaum muslimun menguasai Jerussalem yang berisi jaminan keselamatan kepada kaum non muslim.
Salah satu isi paragraf dari perjanjian tersebut adalah: "Inilah jaminan keamanan yang diberikan Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Aelia. Ia menjamin keamanan mereka untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk gereja-gereja dan salib mereka dalam keadaan sehat maupun sakit,...".
Fakta sejarah ini yang harus dipahami oleh kelompok-kelompok yang mengaku paling membela Tuhan namun kerap merendahkan nilai kemanusiaan. Kenyataan bahwa Nabi Muhammad Saw. dan para Salaf al-Sholih sangat menjunjung tinggi kemanusian mestinya menjadi pedoman bagi kelompok-kelompok Islam radikal dan semua muslim untuk tidak gampang menumpahkan darah sesama manusia lainnya, demi alasan dan tujuan apapun, apalagi mengatasnamakan Tuhan.
Dengan Idul Adha semoga kita bisa belajar memanusiakan manusia !, Wallahu A'lam.



PCINU Mesir, September 2014
Mabda Dzikara

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Leave a Reply